Amalan Meraih Rezeki yang Berkah

Amalan Meraih Rezeki yang Berkah

Rezeki yang Berkah Bisa Diraih dengan 6 Amalan Ini, Wajib Tahu!

Allah sudah menakar rezeki manusia jauh sebelum ia dilahirkan, bahkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Meskipun demikian, bukan berarti kita boleh malas bekerja dan berusaha. Allah memerintahkan kita agar tetap melakukan upaya untuk menjemputnya sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Pada faktanya tak hanya berhenti pada mengupayakan rezeki yang cukup, kita juga sering mendengar doa agar diberikan rezeki yang berkah. Namun sebenarnya rezeki yang berkah itu seperti apa? Lalu amalan apa yang bisa mendatangkan keberkahan dalam rezeki? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Definisi Rezeki yang Berkah

definisi rezeki yang berkah
Sumber: Unsplash

Jika kita mempelajari secara mendalam, baik dalam ilmu bahasa Arab maupun Al-Qur’ân dan Sunnah, kita akan mengetahui bahwa kata al-barakah mempunyai kandungan dan pemahaman yang amat luas.

Sebuah artikel dari situs almanhaj.or.id menyebutkan bahwa berkah berasal dari kata al-barakah yang secara ilmu bahasa berarti berkembang, bertambah, dan kebahagiaan. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata : Asal makna keberkahan, ialah kebaikan yang banyak dan abadi”. (Syarhu Shahih Muslim, oleh an-Nawawi, 1/225)

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa rezeki yang berkah berarti rezeki yang mendatangkan banyak kebaikan dan kebahagiaan yang abadi.

Amalan Meraih Rezeki yang Berkah

Kami telah merangkum 6 amalan meraih keberkahan rezeki yang bersumber dari situs rumaysho.com dan almanhaj.or.id. Berikut ulasannya.

Mensyukuri segala nikmat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (Qs. An-Nahl: 71)

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa jatah rezeki tiap makhluk sudah ditakdirkan dan tercatat 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.

Oleh karena itu, kita harus mengingat bahwa kenikmatan yang kita rasakan saat ini sejatinya hanya datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita wajib untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya dengan mengucapkan hamdalah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim: 7)

hikmah di balik rasa syukur



Bersedekah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan , maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Qs. Saba’: 39)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2588)

Sebuah artikel dari website Rumaysho.com menyebutkan bahwa Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah memberikan dua penafsiran dari hadits ini, yaitu:

  • Harta tersebut akan diberkahi dan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta akan ditutup dengan keberkahannya. Secara inderawi dan realita dapat dirasakan.
  • Meskipun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan itu akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang sangat banyak. (Syarh Shahih Muslim, 16: 128)

Dua penafsiran di atas menunjukkan bahwa meskipun secara kasat mata bentuk harta berkurang saat disedekahkan, namun sedekah adalah salah satu tanda rezeki yang berkah.

Bertakwa kepada Allah

Bertakwa kepada Allah
Sumber: Freepik

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Seorang hamba yang bertakwa senantiasa melakukan amal ketaatan dengan mengharap rahmat-Nya dan meninggalkan maksiat karena takut akan siksa-Nya. Ditambah lagi ia senantiasa menjalankan kewajiban dan melakukan amalan-amalan sunnah yang Allah cintai. Jika Allah sudah cinta pada hamba-Nya, maka insyaa Allah keberkahan rezeki akan meliputinya. 

Bertaubat dari segala perbuatan dosa

Sebuah artikel di situs rumaysho.com menyebutkan adanya atsar dari Ulama kalangan tabiin yaitu Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengenai faedah istighfar yang luar biasa.

Beliau didatangi orang-orang untuk mendapatkan saran mengenai masalah yang mereka alami. Ada yang kesusahan karena paceklik, susah karena miskin, gagal panen, hingga tidak punya keturunan. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan pada orang-orang tersebut dengan nasihat yang sama,

اِسْتَغْفِرْ اللَّه

“Mohon ampunlah kepada Allah.”

Maksudnya, Al-Hasan Al-Bashri menyuruh untuk memperbanyak istighfar. Lalu dibacakanlah surah Nuh ayat 10-12 kepada mereka. (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, 11:98)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

 

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu (beristighfarlah), sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Menyambung tali silaturahim

Silaturahim adalah menjalin hubungan dengan kerabat yang pernah putus atau terus menjalin yang selama ini sudah ada.

Ibnu Hajar dalam Al-Fath menjelaskan, silaturahim dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi atau tidak, begitupula masih ada hubungan mahrom ataupun tidak.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa yang suka untuk dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka berbaktilah kepada kedua orang tuanya dan jalinlah hubungan dengan kerabatnya (silaturahim).” (HR. Ahmad, 3:229; 3:266. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih, sanad hadits ini hasan dari jalur Maimun bin Sayah dan di bawahnya tsiqah).

Janji Allah bagi yang gemar silaturahim



Mencari rezeki dari jalan yang halal

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan ancaman terhadap orang-orang yang memakan harta haram. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya”. [HR Ahmad dan Ad Darimi].

Berikut renungan dari perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma agar kita senantiasa mencari rezeki di jalan yang halal sehingga yang kita dapat nanti adalah rezeki yang berkah,

ما من مؤمن ولا فاجر إلا وقد كتب الله تعالى له رزقه من الحلال فان صبر حتى يأتيه آتاه الله تعالى وإن جزع فتناول شيئا من الحرام نقصه الله من رزقه الحلال

“Seorang mukmin dan seorang fajir (yang gemar maksiat) sudah ditetapkan rezeki baginya dari yang halal. Jika ia mau bersabar hingga rezeki itu diberi, niscaya Allah akan memberinya. Namun jika ia tidak sabar lantas ia tempuh cara yang haram, niscaya Allah akan mengurangi jatah rezeki halal untuknya.” (Hilyah Al-Auliya’, 1: 326)

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa rezeki yang berkah akan mampu mendekatkan pemiliknya kepada Sang Pencipta. Jadi, apabila rezeki terlihat banyak namun hubungan dengan Allah semakin jauh, maka perlu direnungkan kembali mengenai keberkahannya.

Wallahu a’lam bish-shawab, semoga Allah Ta’ala memberi taufik dan hidayah-Nya.

Editor: Ismu Kunthi

Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *